Punya Modal Historis dan SDA, Maluku Didorong Jadi Poros Ekonomi Dunia

Punya Modal Historis dan SDA, Maluku Didorong Jadi Poros Ekonomi Dunia

JawaPos.com – Dalam perkembangan global, Maluku seharusnya sudah bisa dijadikan sebagai poros perekonomian dunia abad XXI. Pasalnya, ada niliai historis dan potensi ekonomi yang ada di provinsi ini.

Ide itu diungkapkan oleh Anggota DPR Komisi II dalam acara bedah buku karyanya sendiri yang berjudul Maluku “Staging Point RI Abad 21” di Universitas Indonesia (UI), Depok, Rabu (31/10).

Menurut Komarudin, sejak abad XII Maluku memiliki peran yang sangat vital bagi Nusantara. Layaknya Tiongkok yang bisa membangun jalur sutera. Begitupun, Indonesia terutama Maluku pernah memiliki jalur perekonomian sendiri.

“Jalur tersebut dinamakan jalur rempah, Maluku menjadi titik pusatnya. Karena dalam catatam sejarah, Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbaik dunia yang merupakan komoditas perdagangan termahal mengalahkan harga emas di dunia pada abad XVI,” paparnya.

Bahkan, lanjut legislator PDIP itu, selama abad XVI-XVIII Maluku menjadi daerah utama yang memasok kebutuhan rempah-rempah dunia dan berperan melahirkan jaringan maritim dunia, inovasi, dan korporasi global pertama kali di dunia.

Sejarah juga mencatat, karena kekayaannya, bangsa-bangsa Spanyol dan Portugal sebagai kekuatan imperialis kuno rela bertempur memperebutkan Maluku. Perselisihan tersebut akhirnya menghasilkan Perjanjian Zaragoza yang membagi belahan bumi barat di antara Spanyol dan Portugal dan diprakarsai oleh Paus pada 7 Juni 1494.

Tak hanya dua negara tersebut yang memperebutkan Maluku, Belanda pun pada Dua abad setelahnya, ikut dalam persaingan memperebutkan Maluku. Sebab, siapa yang dapat menguasai rempah-rempah, maka akan dapat menguasai perdagangan Eropa.

“Itu merupakan nilai historis dan strategis Maluku sebagai daerah yang pernah jaya dengan rempah-rempahnya. Ingat jangan pernah lupakan sejarah,” paparnya.

Secara geografis, wilayah Maluku sangat terbuka ke Filipina, Brunei, Australia, Papua Nugini, Korea Selatan, Jepang, hingga Tiongkok. Karena itu, maluku dapat menjadi opsi lain sebagai titik pusat jalur perdagangan Indonesia.

“Ingat, selain rempah Maluku juga memiliki kekayaan alam Mineral seperti gas Blok Masela yang merupakan ladang gas abadi yang dimiliki oleh Indonesia dengan cadangan gasnya yang bisa bertahan selama 70 tahun ke depan,” jelasnya.

Produk dari gas itu dapat diolah kembali menjadi 200 produk turunan. Bahkan, lanjutnya, Rizal Ramli saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan, apabila dikelola dengan baik, maka ladang Blok Masela dapat mengalahkan penghasilan gas dan minyak Qatar.

“Pontensi ini yang sangat strategis semestinya dapat dijadikan untuk membangun poros perekonomian baru, bukan harus memilih antara jalur transpasifik AS dan jalur sutera Tiongkok,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan