Politisi PDIP sebut Maluku poros kebangkitan Indonesia abad ke-21

Politisi PDIP sebut Maluku poros kebangkitan Indonesia abad ke-21

Politisi PDIP Komarudin Watubun menawarkan gagasan bahwa Maluku dapat dijadikan sebagai poros perekonomian Indonesia abad ke-21. Hal itu diutarakan dalam bedah bukunya berjudul “Maluku ‘Staging Point’ RI abad 21” di Universitas Indonesia, Depok (31/10/2018).

Menurut Komarudin Komarudin, pertama, tentu nilai historis dan ekonomis Maluku bagi Nusantara sejak abad ke-12 hingga abad ke-20.

“Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbaik dunia yang merupakan komoditas perdagangan termahal mengalahkan harga emas di dunia pada abad XVI. Bahkan, selama abad XVI-XVIII Maluku memasok kebutuhan rempah-rempah dunia yang melahirkan globalisasi, jaringan maritim dunia, inovasi, dan revolusi sistem keuangan dan korporasi global pertama kali di dunia,” kata Komarudin pada diskusi di Universitas Indonesia.

Ia menambahkan, karena kekayaannya, Spanyol dan Portugal sebagai kekuatan imperialis kuno memperebutkan Maluku. Perselisihan tersebut bahkan  menghasilkan Perjanjian Zaragoza yang membagi belahan bumi barat di antara Spanyol dan Portugal dan diprakarsai oleh Paus pada 7 Juni 1494.

“Tak hanya dua negara tersebut yang memperebutkan Maluku, Belanda pun pada Dua abad setelahnya, ikut dalam persaingan memperebutkan Maluku. Sebab, siapa yang dapat menguasai rempah-rempah Maluku, maka akan dapat menguasai perdagangan Eropa. Hal itu merupakan nilai historis dan strategis Maluku,” lanjutnya Komarudin. .

Ia juga mengungkapkan  mengenai  Geostrategis Maluku dan Indonesia. Posisi Maluku dan sekitarnya memiliki jalur-jalur terbuka yang sangat banyak, khususnya bila zona Maluku dan sekitarnya dijadikan basis produksi, penyedia, dan transit arus komoditi jasa, mineral strategis, manuisa, barang, jasa, uang dan informasi. Sebab, wilayah Maluku sangat terbuka ke Filipina, Brunei, Australia, Papua Nugini, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok hingga Australia.

“Maluku dapat menjadi opsi lain sebagai titik pusat jalur perdagangan Indonesia. Sebab, bila mengikuti rute yang dibangun oleh Belanda yang berpusat pada Jakarta dan melalui commercial hub atau transit di Singapura yang dibangun oleh Inggris, maka komoditas dari Indonesia sangat terbatas. Tak hanya itu, jalur itu hanya menguntungkan Singapura,” lanjutnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa faktor mineral strategis Maluku. Maluku memiliki kekayaan alam selain rempah-rempah yaitu ladang gas Blok Masela. Blok Masela merupakan ladang gas abadi yang dimiliki oleh Indonesia dengan cadangan gasnya yang bisa bertahan selama 70 tahun ke depan. Cadangan gasnya mencapai 10,73 triliun cubic feet .

Selain itu menurutnya, produk dari gas dapat diolah kembali menjadi 200 produk turunan. Bahkan, ia mengatakan Rizal Ramli saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan, apabila dikelola dengan baik, maka ladang Blok Masela dapat mengalahkan penghasilan gas dan minyak Qatar.

“Kita tentu ingin membuktikan bahwa kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia dapat menyejahterakan rakyatnya. Sehingga, sila kelima dalam pancasila bukan lagi sebuah cita-cita, melainkan sebuah realitas dan keniscayaan bagi rakyat Indonesia,” katanya.

Buku ini direspon oleh pegiat sejarah Universitas Indonesia yang menjadi pembicara diskusi buku ini, Agil Kurniadi. Agil mengatakam buku ini baik untuk menjadi pengantar sejarah Maluku tahap awal, namun banyak hal-hal yang di luar konteks pembahasan dimasukkan ke buku ini. Menurut Agil, buku ini terkesan rakus untuk memindahkan seluruh isi sumber data ke buku.

“Sepertinya buku ini terlampau rakus dalam melahap sumber-sumber bahan bacaan. Pembahasan yang disajikan juga masih umum sehingga bisa dijadikan sebagai pengantar.” ungkap Agil.

 

http://rimanews.com/ideas/politics/read/20181101/330020/Politisi-PDIP-sebut-Maluku-poros-kebangkitan-Indonesia-abad-ke-21/

Tinggalkan Balasan