Perjuangan Tanpa Batas Komarudin Watubun

Perjuangan Tanpa Batas Komarudin Watubun

Wartapolitik.id _  Siapa saja tokoh yang menjadi penentu keputusan PDIP untuk mendukung Jokowi saat maju menjadi gubernur DKI pada 2014 lalu? Salah satunya Komarudin Watubun.

Akrab dipanggil Bung Komar (BK), Politisi PDIP asal Indonesia Timur ini ketika itu beralasan, ibukota perlu sosok yang sederhana dan dari kalangan sederhana. Yang terpenting, mampu melayani rakyat.

Perkiraannya benar, Jokowi terpilih sebagai gubernur DKI, didamping Ahok yang secara penampilan sama sederhana dan merakyatnya seperti Jokowi. Kombinasi pemimpin DKI yang berasal dari dua kota kecil (Solo dan Bangka Belitung) ternyata mampu mengubah Jakarta menjadi kota yang merakyat, pelayanan publik terbaik, dan percepatan pembangunan yang luar biasa.

Dalam sebuah diskusi di Mabes Cilangkap pada 2012, Komarudin Watubun kembali membuka wacana “pemimpin rakyat” dan kesederhanaan politisi itu. Dengan gaya bahasa diplomatis, ia mengatakan, setelah merdeka lebih dari 67 tahun hingga 2012 itu, apa yang sulit didapatkan adalah pemimpin merakyat.

Gagasan besar telah banyak, pemikir besar dan capaian besar juga tidak kurang, tetapi kita kurang pemimpin yang bekerja untuk rakyat. Pada titik itulah kita akan memulai proses politik kontemporer kita, paparnya waktu itu.

Seperti firasat, keyakinannya itu ternyata menjadi kenyataan. Simbol pemimpin rakyat yang sebelumnya didukung Bung Komar untuk menjadi gubernur DKI, kemudian melaju ke kursi Presiden. PDIP, yang punya jargon partai wong cilik, konsisten mendukung Jokowi bahkan hingga kini ketika Jokowi maju kembali untuk menjadi capres pada pemilu 2019.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri didampingi Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan Kepala Sekolah Partai Calon Kepala Daerah PDI Perjuangan Komarudin Watubun saat menghadiri pembukaan sekolah partai calon kepala daerah PDI Perjuangan angkatan ke-6, di Wisma Kinasih, Tapos, Depok, Minggu (28/1/2018). Pada kegiatan tersebut Megawati memberikan pembekalan kepada 91 calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang akan maju pada Pilkada serentak 2018.

Lagi-lagi publik akan ingat peran Bung Komar di balik popularitas dan dukungan politik pada Jokowi itu. Bagaimana pun, posisi Bung Komar selaku Ketua Bidang Kehormatan PDIP tentulah sangat berpengaruh terhadap tiap putusan politik yang diambil partai besar berlambang banteng moncong putih itu.

Bahkan, sebagian pengamat tak segan-segan menyebutnya “Orang Kedua” terkuat di PDIP setelah Megawati. Tak salah memang, tokoh asal Papua ini diketahui merupakan satu-satunya figur di PDIP yang berani mengkritik Megawati.

Dalam pidato pengangkatan pengurus pada 2015 misalnya, Megawati Soekarno Putri sendiri pernah bercanda kalau ia baru saja ‘dimarahi’ oleh anak Papua (Komarudin Watubun). Anak itu, punya dedikasi politik yang bagus kepada partai, disiplin tapi spontan, punya ideologi yang kukuh, dan yang terpenting sangat rendah hati, kata Megawati pula memuji sosok Komarudin Watubun.

Megawati Soekarnoputri (kiri) didampingi Ketua Bidang Kehormatan Partai DPP PDI-P Komarudin Watubun.

Banyak pengamatan dan kalangan melihat kejelian Megawati menempatkan posisi pria kelahiran Kei, Maluku ini sebagai Ketua Bapilu dan Bidang Kehormatan PDIP.

Ia bukan hanya ‘keras’ ke luar, tetapi lantang mengkritik internal partai bila menurutnya melenceng dari ideologi Pancasila yang berbineka atau kebijakan yang tak memihak rakyat kecil.

Pada 2014 lalu misalnya, santer di media massa, ia mengingatkan partainya agar tak dihancurkan oleh pandangan subyektif orang-orang dekat Megawati sendiri yang menyulitkan posisi Ketum PDIP itu dalam menentukan skenario pemenangan Pemilu waktu itu.

Terhadap kader PDIP yang menjadi anggota legislatif, Bung Komar juga tak lelah-lelah mengingatkan agar punya komitmen dan moral yang kuat.  “Perjuangan tak ada batasnya untuk kepentingan rakyat. Jangan masuk PDIP kalau hanya sekadar menjadi anggota DPR (dewan) dan jika tak terpilih, pindah ke partai lain,” kata Komarudin.

Buku yang berjudul, Maluku, ‘Staging Point’ RI Abad 21 – memiliki 431 halaman, telah resmi diluncurkan di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah, Jakarta Barat, Selasa (28/11/2017).

Tentu bukan semata sikap tegas dan kerasnya itu yang layak diapresiasi. Di samping kapasitas selaku politisi handal, kecerdasan dan kekayaan gagasan-gagasan politik kebangsaan juga menjadi ciri yang menonjol pada sosok ini.

Salah satunya gagasan Kebangkitan Indonesia sebagai bangsa besar yang menurutnya perlu terus menerus diwacanakan. Menurutnya, faktor historis sebagai bangsa dengan sejarah besar di masa lampau, dapat menjadi motivasi kebangkitan Indonesia.

Secara ilmiah, pandangannya itu ia tuangkan secara panjang lebar dalam bukunya “Maluku – Staging Point RI Abad 21” yang diluncurkan pada 2017 lalu. Menurutnya, tantangan abad 21 yang berat, dapat dihadapi dengan memberdayakan potensi historis selain sumberdaya alam dan ekonomi.

Hasil risetnya menunjukkan, titik nol kebangkitan Indonesia bisa dimulai dari Indonesia Timur, khususnya Maluku yang kaya sejarah dan sumberdaya energi. Nilai historis dan nilai strategis Maluku selama lebih dari 800 tahun pada level global dan kawasan Asia, pada masa-masa mendatang, katanya, akan sangat mempengaruhi bahkan menentukan daya-saing Negara RI abad 21.

Hadir di Istana Negara Menyerahkan Hasil Risetnya Kepada Presden Joko Widodo.

Hal itu karena kawasan Maluku mempunyai potensi daratan selain potensi perairannya yang sangat luas. Di darat, potensi mineral Maluku adalah emas di Pulau Wetar, Ambon, Haruku dan Pulau Romang, mercuri di Pulau Damar, perak di Pulau Romang, logam dasar di Pulau Haruku dan Nusalaut, kuarsa di Pulau Buru; minyak bumi di Bula (Seram), Laut Banda, Kepulauan Aru dan cadangan minyak di Maluku Barat Daya, dan mangan di Laut Banda.

Sementara perairan seluas 658.294,69 km2 memiliki potensi perikanan antara lain, ikan pelagis besar, ikan pelagis kecil, ikan demersal, ikan karang, udang, lobster, cumi, dan kekayaan laut lainnya. Titik balik ekonomi dunia dari sektor maritim, pada gilirannya akan membawa dampak positif bagi Indonesia melalui potensi kawasan Maluku dan Indonesia Timur.

Pandangan-pandangannya itu mendapat banyak pujian dari para ahli. Boleh dikata, itu turut mendasari kebijakan-kebijakan ekonomi bahari yang dicanangkan Joko Widodo – Jusuf Kala di permulaan pemerintahannya.
Namun menurutnya, untuk mewujudkan cita-cita itu, perlu komitmen yang kuat dari seluruh lapisan bangsa, selain kepemimpinan yang amanah sesuai UUD 1945.

Ia malah kerap mengajak bangsa ini “bersih-bersih” diri melalui pertobatan nasional, sebagai bentuk otokritik terhadap kesalahan-kesalahan selama ini. Dan yang terpenting sebagai bentuk rasa syukur kepada anugrah sumberdaya dan kebinekaan yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada Indonesia.

Lahir, di Mun Kahar, Kei, Maluku pada 09 Februari 1968, dan besar di Papua yang memiliki kekayaan alam dan laut yang luar biasa, tentulah berpengaruh pada rasa cinta dan konsepsi gagasan Bung Komar mengenai kebangkitan Indonesia itu.

Dan ia konsisten, hingga menjadi anggota DPR RI komisi II, itulah yang selalu ia suarakan. Yang sering ia sebut “sebuah perjuangan tanpa batas”.

Tinggalkan Balasan