Maluku poros kebangkitan ekonomi Indonesia masih dapat diperdebatkan

Maluku poros kebangkitan ekonomi Indonesia masih dapat diperdebatkan

Pegiat sejarah Universitas Indonesia Agil Kurniadi mengatakan bahwa klaim Maluku sebagai poros Maritim oleh politisi PDIP Komarudin Watubun masih dapat diperdebatkan. Meski demikian, ia tidak menolak fakta bahwa klaim-klaim historis yang diutarakan oleh Komar dalam bukunya memang benar. Hal ini diutarakan Agil ketika menjadi pembicara dalam diskusi buku “Maluku ‘staging point’ RI abad ke-21” karya Komarudin di Universitas Indonesia, Rabu (31/102018).

“Saya sudah lahap habis (baca sampai tamat) bukunya,” ujar Agil saat ditanya apakah sudah membaca habis buku tersebut.

Agil mengatakan bahwa hal tersebut dapat saja diklaim setiap daerah dan bukan hanya Maluku. Meski begitu ia mengakui bahwa argumentasi historis tentang kejayaan masa lalu Maluku ini memang merupakan fakta sejarah.

“Dalam memahami staging point,  saya kira tiap daerah, selain Maluku, juga bisa melakukan klaim yang sama. Ini masih bisa jd perdebatan.  Akan tetapi, Maluku punya fakta sejarah yang tak terbantahkan,  bahwa staging point dalam sejarah Maluku itu nampak nyata,” ujar Agil.

Ia menambahkan, meskipun memuat anyak data-data sejarah, buku tersebut tidak menggunakan metode sejarah yang seharusnya digunakan dalam penelitian sejarah. Ia mengatakan bahwa tulisan ini lebih mirip produk jurnalistik. Ia mengatakan bahwa buku ini layak untuk menjadi pengantar bagi mahasiswa.

“Buku ini tidak menggunakan metode sejarah dalam penulisannya, hal ini membuat buku ini seperti tulisan jurnalistik. Sepertinya buku ini terlampau rakus dalam melahap sumber-sumber bahan bacaan. Pembahasan yang disajikan juga masih umum sehingga bisa dijadikan sebagai pengantar bagi mahasiswa.,” ungkap Agil.

Sebelumnya, Politisi PDIP Komarudin Watubun menawarkan gagasan bahwa Maluku dapat dijadikan sebagai poros perekonomian Indonesia abad ke-21. Hal itu diutarakan dalam bedah bukunya berjudul “Maluku ‘Staging Point’ RI abad 21” di Universitas Indonesia, Depok (31/10/2018).

Ia mengemukakan posisi Maluku dan sekitarnya memiliki jalur-jalur terbuka yang sangat banyak, khususnya bila zona Maluku dan sekitarnya dijadikan basis produksi, penyedia, dan transit arus komoditi jasa, mineral strategis, manuisa, barang, jasa, uang dan informasi. Sebab, wilayah Maluku sangat terbuka ke Filipina, Brunei, Australia, Papua Nugini, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok hingga Australia.

“Maluku dapat menjadi opsi lain sebagai titik pusat jalur perdagangan Indonesia. Sebab, bila mengikuti rute yang dibangun oleh Belanda yang berpusat pada Jakarta dan melalui commercial hub atau transit di Singapura yang dibangun oleh Inggris, maka komoditas dari Indonesia sangat terbatas. Tak hanya itu, jalur itu hanya menguntungkan Singapura.” tulisnya dalam rilis.

http://www.rimanews.com/news/read/20181101/330022/Maluku-poros-kebangkitan-ekonomi-Indonesia-masih-dapat-diperdebatkan/

Tinggalkan Balasan