“Maluku Jatung NKRI”, Dulu, Kini, Masa Datang

“Maluku Jatung NKRI”, Dulu, Kini, Masa Datang

Jika Indonesia ingin menjadi penentu tata dunia yang adil, sehat, damai dan tertib serta lingkungan sehat lestari berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, maka titik strategisnya ialah kawasan Timur Negara RI, yaitu Maluku, Papua dan NTT.

Demikian kata Komarudin Watubun, penulis buku Maluku ‘Staging Point’ RI Abad ke 21: Jejak 800 Tahun Maluku: Dulu, Kini dan Ke Depan, dalam diskusi bedah bukunya yang diadakan oleh Studi Klub Sejarah dan Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya UI, Rabu (31/10/2018).

Dikatakannya , saat ini  Zona Papua, Maluku dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sekitarnya merupakan satu garis lurus alam. Hingga Agustus 2015 di kawasan kepulauan Maluku terdapat 25 Blok Migas, sebanyak 15 blok digarap investor asing, 10 blok ditawarkkan ke pihak investor. Blok Gas Abadi Masela masih termasuk rancangan “jurasc plyas” berupa “deep water project development”, dari tahun 1998 hingga 2008 bukan pembangunan proyek-proyek migas di Zona Darat (halaman 5).

“Sejak dulu Maluku adalah titik kekayaan alam Indonesia.  Maluku menjadi penentu sejarah Indonesia. Karena kekayaan rempah-rempahnya mendatangkan orang Eropa  ke Nusantara dan akhirnya menyebabkan penjajahan,” ujar  Penulis yang juga anggota DPR yang mewakili Papua ini.

Dalam bukunya ia menyinggung, selama 200 tahun abad ke 16-18

Lanjut dia pada masa Perang Dunia ke II Mc Arthur menjadikan kawasan Maluku sekitarnya sebagai salah satu jalur  untuk mencapai Hiroshima dan Nagasaki di Jepang.

Pada saat ini kawasan ini menjadi sasaran tarik menarik antara Tiongkok dengan Zona Silk Road Economic Belt dan 21st Century Silk Road, yatu (1) Tiongkok-Eropa melalui Laut  Cina Selatan (2) Tiongkok-Pasifik Selatan (3) Tiongkok-Asia Tenggara  yang dirilis pada Maret 2015.

Presiden Xi Jinping kemudian mengubah doktrin dan strategi global dan kawasan negaranya melalui Cina Belt, One Road (OBOR //Yi dai Yi Lu) ke zona sekitar55% PDB Dunia, 70 % penduduk dunia dan 75% cadangan energi dunia.

Namun ada kekuatan lain, yaitu Trans Pasific Partnership yang terdiri 12 negara dipimpin Amerika Serikat.  TPP merupakan agenda politik luar negeri Presiden AS sewaktu  dipimpin Barack Obama untuk mengimbangi pengaruh Tiongkok. Indonesia punya nilai strategis. Investasi asal AS pada 2015 sebesar 60 miliar dolar dan selama ini ada perusahaan energy asal AS Chevron beroperasi pada ladang minyak dan merencanakan ladang gas deep-sea di Indonesia awal abad ke 21.

Kekayaan alam Maluku mulai dari enegri, hingga ikan laut menjadi daya tarik bagi dua kekuatan dunia saat ini. Untuk itu Komarudin mengingatkan pepatah keledai saja tidak mau terjatuh pada lubang yang sama kedua kalinya.

Menurut saya, Komarudin ingin mengingatkan belajar dari sejarah bagaimana rempah-rempah mengundang bangsa Barat untuk datang ke nusantara dan akhirnya melakukan penjajahan. Jangan sampai karena kelengahan bangsa kita hal itu terulang lagi, karena kekayaan gas alam dan kekayaan laut di Maluku dikuasai bangsa lain.

“Maluku adalah jantungnya NKRI, baik dulu, kini dan masa depan,” ucap pria kelahiran 1968 ini dalam diskusi ini patut direnungkan.

Isi Buku

Saya sendiri melihat buku yang terdiri dari 9 bab ini tidak ditulis secara runtut, tetapi menyinggung persoalan  era kekinian di Maluku, seperti Bab I “Maluku, RI dan Pergeseran Pusat Ekonomi ke Asia Pasifik”, Bab ke I2 “Gas blokMasela, RI dan Ekonomi Gas-Asia Abad ke 21”, serta Bab 3 bertajuk “Maluku, RI dan geopolitik Asia Pasifik abad ke 21”.

Ketiga bab ini relevan dengan situasi politik dunia saat ini, berkaitan dengan Perang Dagang AS dengan Tiongkok, serta energi dunia.  Komarudin melihat Jepang mampu mengamankan kembali pasokan gas LNG yang 100% bergantung pada impor.  Perusahaan-perusahaan Jepang sampai awal abad ke 21 menjadi stakeholders utama perusahaan LNG Asia Pasifik, Teluk Persia, Qatar dan Uni Emirat Arab.

Namun di Indonesia, spirit nasionalisme energi semula hanya samar-samar terlihat. Misalnya sebanyak 15 blok Migas dikelola Investor Asing. Ini sekario pemeirntah tahun 2010 seperti pada blok Misela dengan skema lepas pantai dan biaya investasi sebesar 14,5 miliar dolar AS.  Sedangkan 10 blok lainnya ditawarkan ke para investor lain. Namun di sisi lain Maluku, juga menempati urutan ke 4 sebagai provinsi miskin setelah Papua, Papua Barat dan NTT (halaman 55-56).

Sementara Bab 4 hingga Bab 8 bab yang berkaitan dengan sejarah Maluku. Saya tertarik dengan bab 4 dimana Komarudin mengungkapkan hal baru yang jarang disinggung sejarawan, yaitu “Ahli Maluku dan Era Atom Negara RI”.  Yang dimaksud adalah kiprah dari Direktur Lembaga Tenaga Atom Indoensia DR DGA Siwabessy, yang awalnya hanya seorang dokter dan ahli radiologi dan bukan insinyur nuklir. Sukarno menunjuk siwabessy  untuk mewujudkan impian dan harapan RI untuk memasuki “Era Atom dan Era Antariksa” sejak 1960-an.

Saya sendiri pernah menulis hal ini di Kompasiana, dalam https://www.kompasiana.com/jurnalgemini/5ac36ae5ab12ae063c05d5f2/bandung-1961-sejarah-atom-indonesia-dari-tamansari?page=all.

Pada babd ke 5 Komarudin membahas “Maluku: Jejak Awal Perjuangan Kemerdekaan dan Anti Perbudakan” yang pada intinya mengungkapan pemberontakan Patimura pada 1817. Matulessy memprotes rakyat Maluku awal abd ke 19 telah bekerja keras untuk pemeirntah kolonial Belanda, namun tanpa upah dan pembayaran.

Pemberontakan itu berkaitan dengan pemaksaan perintah pembuatan garam, pemotongan dan pasokan kayu, pemecatan guru sekolah, penerimaan orang Maluku jadi tentara tetapi ditempatkan di Batavia, pasokan ikan kering dan dendeng, kwajiban mengirim kopi dan berkaitan dengan perbudakan.

“Semula rempah-rempah hanya merupakan barang sangat berharga untuk perdagangan, akhirnya memicu lahirnya “source of evil”, seperti perbudakan, penjarahan, pembunuhan dan kekejaman terhadap rakyat Maluku” (halaman 227). Komarudin ingin mengaitkan pemberontakan ini dengan peristiwa sejarah lain sebelumnya yang justru dibahas pada bab ke 6 “Rempah Maluku dan Kelahiran Jaringan Ekonomi Global Abad ke 16, yang sudah banyak dibahas dalam buku sejarah. Pada  bab ke 7 “Peta Al-Idrisi, Vanetia dan Jazirah Al-Mulk”  menjadi penting karena itu peta yang justru dibuat orang Asia memandu bangsa Barat datang dan akhirnya melakukan penjajahan.  Sementara Bab 8 bertajuk “Maluku: The Islands of Imagination” menyinggung soal arus rempah-rempah sebelum kedatangan bangsa Barat ke negeri lain, Tiongkok, Asia Tengah hingga ke Eropa.

Akhirnya buku ini ditutup dengan Bab 9  yang bertajuk hampir sama dengan buku ini.  Secara keseluruhan buku ini merupakan referensi yang bagus karena ditulis dengan sngguh-sunggu didukung ratusan referensi, menandakan ketekunan si penulis.

Maluku Dilihat dari Konteks Global 

Selain penulis, Sejarawan dan Staf Pengajar Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Dr Didik Pradjoko mengungkapkan, struktur pembangunan ekonomi masa Kolonial  sebesar 70% dilakukan untuk Pulau Jawa, sekitar 20% untuk Sumatra dan sisanya 10 persen untuk kawasan di sebut Groote Oost,  (Timur Besar)  yaitu Borneo (Kalimantan), Celebes (Sulawesi), Sunda Kecil (Bali hingga Timor), Maluku dan Papua (walau baru digarap awal abd ke 20 ketika Belanda mendirikan Hollandia (Jayapura sekarang).

“Sebetulnya globalisasi pertama  pada abad ke 15-16 ketika bangsa barat seperti Spanyol dengan ekspedisi pelayaran  dipimpinan Juan Sebastian Elcano, Magelhaens, Spinoza dan sebagainya untuk mencari rempah-rempah.  Mulanya Spanyol bersaing dengan Portugal, kemudian dengan VOC” tutur Didi, seraya mengatakan  yang menjadi pemenang persaingan mencari rempah-rempah  adalah VOC karena keunggulan Sumber Daya Manusia, teknologi kapal dan persenjataan.

Menyinggung situasi sekarang, Didik mengatakan kawasan Maluku yang begitu strategis membutuhkan banyak kapal, selain untuk kebutuhan perikanan juga untuk kebutuhan transportasi menghubungkan antar pulau.

Sementara menurut Peneliti LIPI dan Antropolog Dedi Supriadi Andhuri menjadi pembahas buku lainnya, Komarudin menulis sejarah tidak dengan kronologis dan menjadikan buku ini sebagai pemahaman bukan hafalan.  Maluku tidak dilihat sebagai kepulauan tetapi secara global.

Dia hanya mengkritik bahwa analisis Komarudin tentang relasi selama 800 tahun Maluku dengan orang asing seharusnya dilihat tidak hanya sebagai power relation, tetapi juga personal relation dan cultural relation.  Hubungan yang tidak selalu perang.

Tak lupa Andhuri menyinggung kondisi kekinian, pembangunan itu seharusnya membina dan menguatkan masyarakat bukan memaksakan hal-hal yang berbasis pada modernisasi yang belum tentu cocok.

“Pembangunan kerap menyoroti relasi antara pemeirntahan, lembaga pendidikan dan bisnis, tetapi melupakan masyarakat,” cetusnya.

Namun di sisi lain  Hak Ulayat bisa menjadi sumber konflik  dalam sebuah komunitas.  Pada masa dulu ada masyarakat yang ada di Gunung oleh belanda ditarik ke pesisir hingga pemahaman mereka tentang hak ulayat menjadi berubah.

Baik Didik Pradjoko maupun Dedi Supriadi Andhuri sependapat dengan Komarudin Watubun bahwa Maluku mempunyai nilai strategis dan untuk itu diperlukan lebih banyak kajian demi NKRI.

Pembicara ketiga, Agil Kurniadi, penggiat sejarah dan alumni Jurusan Sejarah FIB UI, yang paling muda di antara pembicara mengatakan buku ini menyinggung Maluku menjadi perebutan kekuatan adidaya sejak dulu.

“Sekalipun buku ini melakukan pendekatan sejarah, tetapi pembahasan sejarah jurnalistik,” kesan dia dalam diskusi itu.

Suasana diskusi bedah buku-Foto: Irvan Sjafari.
Suasana diskusi bedah buku-Foto: Irvan Sjafari.

Diskusi ini bedah buku ini menarik. Didik Pradjoko menyinggung, siapapun bisa menulis sejarah, tidak harus sejarawan profesional, tetapi tidak menggampangkan.  Tentunya juga mengikuti kaidah penulisan sejarah.  Dia juga menyebut ada orang di luar pendidikan sejarah, tetapi mampu menulis sejarah dengan bagus seperti Rusli Amran, penulis bukuSumatra Barat hingga  Plakat Panjang. 

Saya setuju. Belajar sejarah adalah hal yang menyenangkan, namun bukan berarti sembarangan.

Irvan Sjafari

https://www.kompasiana.com/jurnalgemini/5bd9a86a677ffb03a7102714/maluku-jatung-nkri-dulu-kini-masa-datang?page=2

Tinggalkan Balasan