Komarudin Watubun: Cabut Investasi Berisiko di Pulau Komodo

Komarudin Watubun: Cabut Investasi Berisiko di Pulau Komodo

Dalam beberapa waktu terakhir masyarakat Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dan sejumlah anggota DPR RI serta DPRD menolak privatisasi di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).

Mereka mendesak penghentian pembangunan resort dan lain-lain di Pulau Rinca (PT Segara Komodo Lestari) dan resort seluas 21,1 hektare di Pauau Padar dan Pulau Komodo (PT Komodo Wildlife Ecotourism) di Kabupaten Manggarai Barat.

Sejak 1991, TNK sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia seluas 219.322 hektare. Ada dua alasan di balik penetapan itu. Pertama, to contain superlative natural phenomena or areas of exceptional natural beauty and aesthetic importance serta to contain the most important and significant natural habitats for in-situ conservation of biological diversity, including those containing threatened species of outstanding universal value from the point of view of science or conservation (UNESCO/UN, 1992).

Menurut UNESCO, pulau-pulau di kawasan TNK dihuni sekitar 5.700 giant lizards yang menarik minat dan upaya banyak ahli guna mempelajari evolusi kehidupan di planet bumi.

TNK terletak di jantung kepulauan Indonesia dan persimpangan dua lempeng benua (Australia dan Asia) sebagai “shatter belt” garis Wallace (Wallacea Biogeographical Region) antara ekosistem berciri Australia dan Asia.

Misteri kehidupan di TNK belum dapat dijelaskan secara ilmiah dan alamiah hingga awal abad ke- 21, kecuali rahasia berkat Allah Yang Maha Kuasa!

Perihal ini, UNESCO hanya membuat kesimpulan dan penetapan bahwa The property is identified as a global conservation priority area, comprising unparalleled terrestrial and marine ecosystems and covers a total area of 219,322 hectare.

Hingga hari ini, ahli-ahli dari Indonesia dan sistem intelijen dunia belum dapat menjelaskan alasan Komodo Dragon bertahan di kawasan TNK, kecuali rakyat yang sudah hidup berdampingan dengan Komodo selama ratusan bahkan ribuan tahun di zona TNK.

Kearifan lokal rakyat telah merawat komodo, keragaman hayati dan ekosistemnya selama ratusan tahun bahkan ribuan tahun di TNK. Selama ini, rakyat di Pulau Komodo dan sekitarnya merawat ekosistem komodo, orange-footed scrub fowl, tikus endemik, Timor deer, dan lain-lain.

Begitu pula terumbu karang yang kaya di TNK memiliki keanekaragaman spesies yang sangat besar, dan arus laut kuat, menarik kehadiran penyu, paus, lumba-lumba dan dugong.

Maka, jangan gusur hak-hak Rrakyat dan kearifannya merawat ekosistem komodo dragon sampai hari ini.

****

Batas-batas TNK mengelilingi fitur taman utama, pemandangan luar biasa dan spesies unik seperti komodo dragon, burung, mamalia laut, spesies terumbu karang, dan lainnya.

Ini yang bisa saya saksikan ketika berkunjung ke Pulau Komodo beberapa waktu lalu. Zona penyangga laut di sekitar TNK adalah kunci menjaga keutuhan dan keutuhan ekosistem TNK dan jumlah spesies luar biasa di TNK yang mencakup wilayah laut dan daratan Pulau Flores sebagai Cagar Biosfer Komodo.

Hingga awal abad ke-21, ahli-ahli dari seluruh dunia menjadikan komodo dragon dan ekosistemnya sebagai lab raksasa guna menyingkap evolusi kehidupan di planet bumi.

Misalnya, tim ahli Dr Tim Jessop dkk asal University of Melbourne (Australia), RI, dan Italia mempelajari 400 komodo dragon selama sepuluh tahun (2002-2010) guna menyingkap pola hidup, penyimpanan energi, dan reproduksinya (Plos One, 17/10.2012).

Begitu pula para ahli dari University of Queensland School of Biological Sciences seperti Professor Bryan Fry yang meneliti komodo dragon sebagai the iconic komodo dragon—the world’s largest lizard pada 2017.

Ahli dari University of California San Diego, University of Colorado-Boulder, University of Chicago dan U.S. Department of Energy’s (DOE’s) Argonne National Laboratory (Amerika Serikat) meneliti cara komodo dragon bertahan hidup yang nyaris sama dengan cara manusia bertahan hidup (The American Society of Microbiology, 28/11/2016).

Rakyat di kawasan TNK menganggap komodo sebagai ‘saudara’. Begitu pula tim ahli paleontologi asal Amerika Serikat dipimpin oleh Jason Head (University of Nebraska-Lincoln) meneliti komodo dragon (Proceedings of the Royal Society B., 4/6/2013).

Para peneliti dan biolog Alex Pyron asal George Washington (Amerika Serikat) meneliti pohon evolusi ular dan lizard di seluruh dunia dengan antara lain merujuk pada hasil riset komodo dragon (BMC Evolutionary Biology, 8/5/2013).

Para ahli ekologi dan biologi evolusi pada lab Joshua Akey, Lewis-Sigler Institute for Integrative Genomics pada Princeton University, berupaya menyingkap misteri Pulau Floresdan sekitarnya.

Zona ini selama bertahun-tahun pernah dihuni oleh gajah raksasa, komodo dragon, burung raksasa, dan tikus raksasa yang antara lain masih tersisa di Gua Liang Bua, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT.

Kesimpulannya : Islands are very special places for evolution. This process, insular dwarfism, resulted in smaller mammals, like hippopotamus and elephants, and smaller humans (Science, 2/8/2018).

Jadi, akhir-akhir ini intelijen sains dunia berupaya menyingkap misteri Kepulauan Jurasik (Jurassic Islands) yaitu Flores, Komodo, Padar, Rinca, dan ratusan pulau sekitarnya hingga Lomblen, Pantar, dan Alor di Flores Timur.

Ini dilakukan oleh para ahli dari Research Centre of Human Evolution (RCHE) pada Griffith University, Centre for Archaeological Science (CAS) pada University of Wollongong (Australia).

Hingga para ahli asal Jepang seperti palaeoanthropolog Prof Yousuke Kaifu dari Department of Anthropology, National Museum of Nature and Science, Tokyo.

Flores dan sekitarnya menyimpan misteri alam seperti komodo dragon yang pernah hidup di Australia sekitar 3,8 juta tahun silam. Namun, Komodo masih hidup dengan ukuran fisik stabil sampai hari ini di pulau Komodo dan Rinca (Claudio Ciofi, 2004: 197-2004).

Maka, pemerintah harus cabut tiap izin investasi ke TNK yang berisiko merusak ekosistem TNK, spesies atau keragaman-hayatinya. Pemerintah harus mendegar dan belajar dari kearifan rakyat yang telah hidup bertahun-tahun, ratusan dan ribuan tahun di kawasan TNK.

Aliran investasi yang berisiko merusak ekosistem komodo dan sekitarnya, khususnya TNK, harus segera dicabut oleh ementerian terkait, termasuk cabut izin investasi pembangunan resort dan sejenisnya di TNK.

TNK berbasis misteri dan keunikan ekosistem dan komodo dragon. St. Kilda di Skotlandia hanya memiliki ekosistem unik, bukan seperti Komodo dan ekosistemnyta sebagai barometer kestabilan ekosistem global dan patokan siklus evolusi kehidupan di planet bumi.

Lebih cepat cabut izin-izin investasi tersebut, lebih baik bagi rakyat, bangsa, negara, dan ekosistemnya serta masyarakat internasional.

 

Tinggalkan Balasan