[E-BOOK] Maluku Staging Point NKRI Abad 21 – Komarudin Watubun

[E-BOOK] Maluku Staging Point NKRI Abad 21 – Komarudin Watubun

Indonesiatimur.co.id, Jakarta – Yayasan Lima Sila Indonesia (Jakarta) pada Rabu(8/8) menggelar forum Panel of Experts, Rilis Film dan id-2i dengan tema “Menuju Republik lndonesia (Rl) Jaya-Adidaya dan Tata-Dunia Baru Yang Adil-Damai Abad 21” yang diadakan di Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta.

Forum panel of experts ini dihadiri dan melibatkan beberapa ahli bidang Sumber Daya Manusia (SDM). Air (Ekosistem), Iptek dan Industri, Bhinneka Tunggal Ika dan ideologi Negara terutama dari Staging-PointCom.

Sedangkan untuk panelis antara lain topik Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (alumnus Columbia University, UlN Syarif Hidayatullah Jakarta), panelis Strategi SDM melalui APBN Archipelagic State RI adalah Dr. Willy Arafah, M.M, D.B.A (alumnus SanBeda Graduate School of Business Manila, Universitas Trisakti), panelis Strategi IPTEK & Industri Negara RI Abad 21, Prof. Drs. Purwo Santoso, M.A, Ph.D (alumnus London School of Economics and Political Science, FlSlPOL-UGM) dan panelis Sustainable Decision Making-social sustainability, economic sustainability, environmental sustainability Daya-dukung Ekosistem Negara RI (yang bernilai komersil dan non-komersil), Prof. Robertus Wahyudi Triweko, Ph.D (Doctor of Philosophy (Ph.D.) bidang Water Resources Planning and Management, Colorado State University, Colorado, USA, (Univ. Parahyangan-Bandung).

Komarudin Watubun S.H, M.H, selaku keynote speaker sekaligus Pemimpin Umum Staging-Point.com dan penulis buku Maluku ‘Staging point’ RI abad 21 mengatakan yang tertulis dalam buku untuk menghidupkan kembali sejarah kebesaran Maluku sebagai bahagian dari Indonesia. Maluku merupakan titik start kemajuan bangsa Indonesia, ujarnya di sela acara berlangsung.

“Kebesaran Maluku itu, kebesaran Indonesia itu harus kita mulai dari staging Point. Titik start nya dari situ makanya kita beri berjudul “Maluku Staging Poin RI Abad 21,” tuturnya.

“Kita tetap begitu begitu saja kenapa begitu karena kita sendiri tidak tahu besaran Indonesia seperti apa. Oleh karena itu kita menulis buku dengan desain 800 tahun kebelakang,” katanya.

 

Tinggalkan Balasan