Berdikari dan Gotong-Royong Untuk Indonesia Raya

Berdikari dan Gotong-Royong Untuk Indonesia Raya

Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia dan daya-saing Bangsa Indonesia dalam persaingan global dewasa ini hendak dibangun dan diwujudkan oleh Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dengan semangat Berdikari dan Gotong-Royong. Hal ini dipaparkan oleh Presiden RI Joko Widodo pada Rapat Koordinasi Nasional Tiga Pilar PDI-Perjuangan, Sabtu 16 Desember 2017 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, dengan tema Berdikari untuk Indonesia Raya (Setkab RI, 16/12/2017).

Menurut Presiden RI Joko Widodo, semangat Berdikari antara lain dijabarkan melalui program pembangunan Negara dan Bangsa Indonesia dari masyarakat-masyarakat desa dan masyarakat-masyarakat pinggiran, zona-zona dekat perbatasan RI dengan negara-negara lain. Bentuk program kebijakan lainnya seperti retribusi aset, aliran modal usaha Rakyat (Usaha Kecil Menengah/UKM), pembangunan pelabuhan, jalan, jalur kereta api yang bermanfaat bagi Rakyat dan merawat persatuan-kesatuan Bangsa Indonesia.

Ir. Soekarno (Bung Karno), bersama Mohamad Hatta sebagai Proklamator kemerdekaan Bangsa Indonesia, selaku penggali Pancasila, telah menegaskan bahwa seluruh elemen masyarakat, bukan hanya sekelompok orang, di Negara-Bangsa RI, bahkan masyarakat dunia, harus diperhatikan. Karena Pancasila berisi nilai-nilai perjuangan membebaskan umat manusia dari ketidakadilan, penderitaan, kemiskinan, dan kemelaratan. Pancasila berisi nilai-nilai dan perjuangan gotong-royong untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat umum. Karena itu, semangat Berdikari dan Gotong-Royong mesti menjelmakan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar Negara-RI yang berkedaulatan Rakyat sesuai amanat alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945.

Maka ke depan di bidang Kesejahteraan Sosial, Bangsa Indonesia mesti menjabarkan semangat Berdikari dan Gotong-Royong melalui wadah koperasi bagi nelayan, petani, tukang, pekerja, profesional, dan kelompok masyarakat lainnya, sebagai usaha bersama dengan azas kekeluargaan sesuai amanat Pasal 33 ayat (1) UUD 1945.

Di Negara RI, jumlah koperasi mencapai 209.488 unit dan anggota 36.443.953 orang tahun 2016 dengan Pancasila sebagai filsafat dan dasar negara serta jiwa Bangsa Indonesia. Organisasi sosial-ekonomi berdasar Pancasila saat ini hanya koperasi sesuai amanat UU No. 25/1992 tentang Perkoperasian. Hasil riset Willis T. Watson (2015) menyimpulkan bahwa selama 100 tahun terakhir, negara-negara yang koperasinya kuat seperti Jepang, Jerman, Finlandia, dan Norwegia, memiliki ciri yang sama yakni sangat makmur, steril dari konflik bersenjata dan aksi teroris (Willis T. Watson, 2015).

Tinggalkan Balasan