Antropolog LIPI: Politisi Harus Didorong Untuk Menulis Buku

Antropolog LIPI: Politisi Harus Didorong Untuk Menulis Buku

Jakarta, Gatra.com- Anggota DPR RI Komisi II  Komarudin Watubun mengatakan Maluku dapat dijadikan sebagai poros perekonomian Indonesia abad XXI. Dalam hal ini mengembalikan nilai historis dan ekonomis Maluku bagi Nusantara seperti sejak abad XII hingga abad XX lalu.
Ini Layaknya Tiongkok yang membangkitkan kembali jalur sutera. Pada konteks geostrategi saat ini, tak ada yang memungkiri, Tiongkok merupakan penguasa ekonomi awal abad XXI. Terlebih, Tiongkok berencana mengaktifkan kembali jalur sutranya yakni One Belt One Road (OBOR).

Pemikiran itu menjadi buah tulisan dari karya Komarudin yang berjudul Maluku “Staging Point RI Abad 21”. Dalam bukunya tersebut, ia menyebut bahwa dalam kaitan Maluku, sejarah semestinya tidak menjadi benda mati dan hanya menjadi pelajaran menghafal di sekolah.

Alasan dia, sebab dalam perjalanan sejarah nusantara, Indonesia terutama Maluku pernah memiliki jalur perekonomian sendiri. “Jalur tersebut dinamakan jalur rempah, Maluku menjadi titik pusatnya,” kata Komarudin dalam acara bedah bukunya di Kampus UI, Depok beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Dedi S. Adhuri, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan  (P2KK)-LIPI mengatakan, agak sulit membayangkan bahwa buku yang tebal dan serius, membahas kurun waktu selama  800 Maluku ini ditulis oleh seorang master hukum dan politikus.

Terlebih, lanjutnya, karena membahas suatu kurun waktu yang lama, 800 tahun, sehingga buku ini juga membahas banyak hal. Meskipun bahasan berfokus pada Maluku, tetapi buku ini menjelaskan sejarah Maluku dalam tatanan dan tataran global.

“Saya senang saat membaca buku ini adalah, pertama, tidak seperti halnya kebanyakan buku sejarah yang saya baca yang pada umumnya menjelaskan kronologi kejadian-kejadian sejarah, buku ini mengembangkan argumen,” ungkapnya.

Adapun, lanjut Antropolog ini, dalam Catatan kritisnya buku ini juga bisa dirumuskan dalam tiga point. Pertama, kerangka penjelasan atau pendekatan  buku ini sangat heavy pada politik ekonomi (political economy), dengan fokus politik penguasaan sumberdaya alam.

Dengan pendekatan ini, tambahnya, kita tersajikan pada ‘perseteruan,’ kontestasi penguasaan sumber daya alam melalui ranah politik dan perdagangan. Kedua, buku ini menjelaskan apa konsekuensi sejarah Maluku yang panjang itu untuk masa kini dan masa depan.

Ketiga, ia melanjutkan, bahasan bab terakhir yang tertulis pada buku kekurangan ‘greget’ reflektifnya, misalnya dengan menjelaskan karena perjalanan sejarah seperti ini, maka seharusnya Maluku berjalan atau dibangun seperti ini.

Paparan pada bab terakhir lebih berfokus pada menjelaskan bagaimana membangun Maluku dengan modalitas saat ini, dengan menjelaskan beberapa, pendekatan  pembangunan seperti two-pronged strategy, model egg of sustainability,  sustainable development dan lain-lain.

Sehingga, menurut dia, refleksi historis untuk bab ini justru terletak pada penggunaan teori-teori lama pembangunan, bukan pada esensi sejarah Malukunya. Selain itu, untuk membahas pembangunan Maluku ke depan, dibutuhan data-data lebih detail tentang modal-modal yang ada di Maluku sekarang (modal sumber daya alam, modal sumber daya manusia, modal sosial, finansial, modal fisik dan lain-lain).

“Kita juga perlu memutahirkan teori-teori pembangunan lama itu dengan pendekatan yang lebih up to date, meskipun tidak totally new,” imbuhnya.

Meski, secara umum, ia ingin kembali mengekspresikan kekaguman pada keuletan, dan keluasan pengetahunan penulis buku dan karyanya ini. Saya belajar banyak dari membacanya. “Saya apresiasi, karena buku ini lahir dari gagasan seorang politisi. Sehingga harus kita dorong para politisi harus juga menulis buku,” pungkasnya.

Reporter: M. Egi Fadliansyah
Editor: Birny Birdieni

https://www.gatra.com/rubrik/nasional/partai-politik/361662-Antropolog-LIPI-Politisi-Harus-Didorong-Untuk-Menulis-Buku

Tinggalkan Balasan