73 Tahun Bangsa Indonesia Merdeka

73 Tahun Bangsa Indonesia Merdeka

Jelang Perayaan Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 2018, Bangsa Indonesia berduka. Tragedi 3 kali gempa 5,9 – 7 skala Richter dan sekitar 500 gempa susulan lainnya sejak Kamis 29 Juli – Senin 5 Agustus 2018, menelan korban jiwa 436 orang, kerugian sekitar Rp 5 triliun dan 350 ribu warga mengungsi di Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Timur (AP, 13/8/2018).

Jumat 17 Agustus 2018, Bangsa Indonesia merayakan Kemerdekaan ke-73. Pertanyaan pokok ialah strategi meraih cita-cita kemerdekaan: Rakyat adil, makmur, cerdas, sehat, aman, dan damai, tercipta tata-dunia adil dan damai serta sehat-lestari ekosistem Negara RI?

Pada Sidang Kabinet Papurna Senin (9/4/2018) di Istana Negara (Jakarta), Pemerintah merilis data bahwa APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) Tahun 2019 hanya memberi kontribusi 15% PDB (Produk Domestik Bruto) Negara RI.

Di sisi lain, jumlah koperasi mencapai 209.488 unit dan anggota 36.443.953 orang tahun 2016 dengan Pancasila sebagai filsafat dan dasar negara serta jiwa Bangsa Indonesia. Organisasi sosial-ekonomi berdasar Pancasila hanya koperasi (UU No. 25/1992 Perkoperasian).

Namun, Koperasi hanya memberi kontribusi 3,9% PDB Negara RI. Artinya, lebih dari 80% struktur ekonomi Negara RI kini dikuasai oleh swasta. Ini tentu renungan dan PR dari Pemerintah RI dalam menjabarkan Pasal 27, 33 dan 34 UUD 1945 dan alinea IV Pembukaan UUD 1945.

Kita belajar dari riset Willis T. Watson (2015) bahwa selama 100 tahun terakhir, negara yang koperasinya kuat dan maju seperti Korea Selatan, Jepang, Jerman, Finlandia, dan Norwegia, memiliki ciri sama yakni sangat makmur, aman, stabil, dan nyaris steril konflik bersenjata dan aksi teroris awal abad 21.

Pada hari-hari ini, luas wilayah laut Negara RI mencapai 5,9 juta km2 (Luas Laut Yuridiksi Nasional), yang terdiri dari 2,9 juta km2 Laut Nusantara, 0,3 juta km2 Laut Teritorial dan 2,7 km2 Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI).

Luas daratan Negara RI mencapai 1,9 juta km2. Negara RI terbentang antara Benua Asia dan Australia dan memiliki 2 Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) menurut konvensi hukum laut internasional.

Zona Negara RI merupakan zona Coral Triangle dari batu karang (coral reef) yang merupakan zona terbesar bagi keragaman ikan dunia sekitar 1.650 spesies ikan di lautan atau perairan Negara RI. Namun, hingga kini, Negara RI belum berhasil menggeser Tiongkok dan India sebagai negara produsen ikan terbanyak di dunia (The Daily Records, 2017).

Sementara amanat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menyatakan : “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran Rakyat.” Awal abad 21, Tiongkok memproduksi 60,2% dan India memproduksi 5,82% dari total produksi ikan dunia (IPB, Inc, 2015:88).

Rata-rata produksi penangkapan ikan di zona Negara RI periode 2003-2012 berkisar 4.745.727 ton. Sedangkan produksi ikan Tiongkok mencapai rata-rata 12. 759 922 tahun 2003-2012. Pada periode yang sama, jumlah produksi penangkapan ikan Jepang berkisar 4.146.622 ton per tahun (FAO, 2014).

Kini tiba saatnya, Rakyat dan Pemerintah RI menyusun strategi baru ekonomi-kelautan (blueeconomy) menuju RI Jaya-Adidaya dan Tata Dunia Baru yang adil dan damai abad 21.

Nusantara memiliki jejak kuat mengkontribusi lahirnya peradaban besar dunia karena jalur rempah-rempah asal Maluku dan sekitarnya. Peradaban komersial, maritim, pasar uang, dan pasar saham abad 17 M di Belanda, misalnya, lahir karena perdagangan rempah-rempah dari Maluku bahkan sejak pra-Masehi ke Persia, Mesopotamia, India, Tiongkok, dan Mesir.

Sekitar 44 benteng dan pelabuhan sebagai pilar dasar infrastruktur globalisasi dan maritim dunia hingga awal abad 21, berbasis jalur rempah sejak dari Azores di Atlantik abad 15 M hingga desa Nagasaki tahun 1572 (Jepang), Guangzo, Macao, Hong Kong, Singapura, dan Benteng-Pelabuhan Serao (Maluku) abad 16 M yang dibangun oleh armada dagang Portugal untuk menguasai perdagangan rempah-rempah kualitas nomor satu dunia yakni lada, pala, dan merica asal Maluku dan cendana asal Timor (kini Provinsi NTT).

History repeats itself! Siklus sejarah selalu berulang. Maka tiba saatnya, Rakyat dan Pemerintah Negara RI membangun RI Jaya-Adidaya dan Tata-Dunia Baru yang adil dan damai dari titik strategis Maluku-Papua-NTT, zona pemasok komoditi, mineral, dan sumber alam selama ratusan tahun bahkan sejak pra-Masehi ke seluruh dunia. Zona ini kaya ikan, sumber daya kelautan, emas, gas, kayu, rempah, komoditi hingga mineral strategis.

*Komarudin Watubun, Anggota Komisi II DPR

Tinggalkan Balasan